Guru Pancasila: vaksinasi
Tampilkan postingan dengan label vaksinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vaksinasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2018

Penemu Vaksinasi Bapak Vaksinasi Edward Jenner

Kamu pernah bertanya-tanya siapa sih yang menemukan teknik vaksinasi pertama kali, dan bisa seheboh ini di Indoneisa ya. dialah Edward Jenner seorang Ilmuwan/Peneliti yang juga berprofesi sebagai dokter Bedah dan juga ahli sejarah alam.



merujuk situs wikipedia Edward Jenner (lahir di Berkeley, Gloucestershire, 17 Mei 1749 – meninggal di Berkeley, Gloucestershire, 26 Januari 1823 pada umur 73 tahun) sudah belajar ilmu bedah dengan cara magang kepada ahli bedah terkenal Daniel Ludlow di Sudbary, dekat Bristol. Lalu pada usia 21 tahun, dia hijrah ke London dan megang kepada seorang ahli bedah terkenal bernama John Hanter.

Suatu hari pada tahun 1796, seorang gadis pemerah susu bernama Sarah Nelmes mendatangi Jenner dan mengeluhkan adanya rash di tangannya. Jenner lalu mengambil materi rash yang diketahui sebagai penyakit cacar menular pada sapi tersebut (cacar sapi atu cowpox) dengan pisau tajam dan memidahkannya ke lengan James Phipps, seorang anak tukang kebunnya yang berusia delapan tahun. Akibatnya, Phipps terkena cowpox, tetapi segera sembuh.

Jenner lantas mengoleskan materi dari luka cacar smallpox (variola), penyakit mematikan yang mewabah saat itu, ke luka yang dia buat di tangan Phipps. Sebagaimana dugaan Jeenner, Phipps tidak terkena cacar. Sesuatu yang berasal dari Phipps telah melindungi Phipps.

Setelah percobaanya sukses, Jenner kembali melakukan percobaan sebanyak 23 kasus yang sama, termasuk kepada anak lelakinya yang berumur 11 bulan. Semua detail penelitiannya dia kumpulkan dalam buku An Inquiry the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae. Dengan keberhasilan Jenner ini, ilmu ilmunologi pun lahir.

Penemuan Jenner dikenal sebagai vaksinasi yang diambil dari bahasa latin sapi, yaitu vacca. Pada 1789, dia mengirim artikel ilmiah tentang hasil studi yang dilakukannya kepada majalah The Royal Society yang terkenal dan bergengsi. Dia menjelaskan bahwa upaya vaksinasi yang dilakukannya berhasil memberi perlindungan dari serangan penyakit cacar.

Sayangnya, metode penelitian ekperimental yang dilakkukan Jenner dipandang tidak lazim dan tidak memenuhi criteria ilmiah yang dianut pada masa itu. Pihak redaksi tidak saja menolak untuk menerbitkan artikel ilmiah tersebut, tetapi juga mengkritik keras dan mencemooh upaya tanpa pamrih yang dilakukan Jenner.

Penolakan itu tidak saja menunda upaya pengendalian penyakit cacar yang dianantikan oleh banyak orang, tetapi yang lebih mengenaskan, telah mebiarkan lagi banyak korban yang tak berdosa terbunuh. Peristiwa ini tercatat unutuk sekian kalinya dalam sejarah tentang arogansi ilmiah yang membekap manusia dalam kejumudan.

Selama berabad-abad, pada ilmuwan belum mampu membuka tabir misteri pengendalian penyakit cacar. Para ilmuwan itu seakan tidak merasakan dan tidak sensitive terhadap derita orang banyak. Mereka terkesan telah menghambat sosialisasi penemuan yang terbukti berkontribusi besar terhadap peningkatan derajat kesejahteraan manusia. Namun, Jener tidak menyerah.

Sebagai seoran penemu, Edward Jenner layak diteladani. Kemauannya yang keras, semangatnya yang tinggi, dan tak kenal menyerah telah didedikasikannya bagi sebuah keyakinan terhadap peningkatan derajat kesejahteraan umat manusia selama berabad-abad berselang.

Ratusan tahun sejak momentum keberhasilan Jenner, vaksin telah digunakan untuk terapi berbagai penyakit. Louis Pasteur mengembangkan teknik vaksinasi pada abad ke-19 dan mengaplikasikan penggunaannya untuk penyakit anthrax dan rabies. Dengan vaksin pula, bebrapa penyakit besar yang melanda umat manusia dapat dikontrol atau dibatasi penyebarannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat beberapa jenis vaksin pertama yang digunakan manusia, yaitun cacar pada 1798, rabies (1885), pes (1897), difteri (1923), pertusis (1926), tuberkolosis (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935).

Setelah Perang Dunia ke II, pengembangan vaksin mengalami percepatan. Vaksin polio suntik pertama diaplikasikan pada manusia pada 1955, lalu polio oral (1962), campak (1964), mumps (1967), rubella (1970), dan hepatitis B (1981).

WHO pun mencanangkan beberapa program vaksinasi dengan target eradikasi penyakit. Untuk cacar, penyakit yang sejak awal mencatat sejarah vaksinasi, kasus terakhir terjadi di Somalia pada 1977. Sementara penyakit polio, ditargetkan WHO teradikasi 2000. meski target ini tidak sepenuhnya tercapai tetapi eradikasi hampir dikatakan berhasil. 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Edward_Jenner

Kenapa vaksinasi dan imunisasi penting bagi negara

Kita pasti sepakat bahwa informasi adalah sesuatu yang penting yang memudahkan kehidupan manusia, semakin gampang mendapatkan informasi tentu kita akan tahu banyak hal dan jika informasi itu bermanfaat tentu akan mempermudah kehidupan kita, zaman modern saat ini sangat mudah mendapatkan informasi karena adanya dunia maya dan mesin pencari informasi canggih seperti google.

Bangsa Maya kalah dengan Spanyol salah satunya karena tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit menular


Betapa pentingnya informasi bagi kehidupan ini, bahkan tubuh ini juga perlu di berikan informasi untuk terhindar dari penyakit-penyakit berbaya, apa itu ? itu adalah informasi genetik tentang penyakit, tubuh perlu di beritahu atau paling tidak pernah mengalami suatu penyakit dan kemudian selamat dari pernyakit tersebut dan pada akhirnya kebal dengan penyakit tersebut di kemudian hari. lah tapi ndak semua bisa selamat jika terpapar langsung to? maka itu manusia modern "ngakal" melemahkan penyakit tersebut hingga resiko kematian menjadi "Nol" dan memberikan nya ketubuh manusia agar bisa menerima informasi genetik tersebut tanpa perlu sakit parah dan kemudian menjadi kebal terhadap penyakit ini. Ini lah yang di kita sebut dengan “Imunisasi” dan “Vaksinasi” .


Sejarah pernah mencatat betapa menderitanya Bangsa Maya karena terpapar virus yang dibawa oleh bangsa Spanyol yakni variola, campak, dan influenza. Penyakit tersebut, ditambah dengan tifus dan demam kuning, sangat berdampak pada penduduk Maya. Penduduk asli di Dunia Baru tidak memiliki resistensi terhadap penyakit-penyakit tersebut. Akibatnya, penyakit tersebut menewaskan banyak tentara dan penduduk tanpa perlu terjadi pertempuran. Kedatangan penyakit-penyakit tersebut merupakan bencana bagi penduduk asli Amerika; diperkirakan 90% penduduk asli Amerika tewas akibat penyakit dalam satu abad setelah kontak dengan bangsa Eropa. Hal ini dikarenakan tubuh bangsa maya pada saat itu belum pernah terpapar penyakit-penyakit tersebut tubuh belum memiliki kekebalan genetis.


Dunia modern saat ini, orang-orang di seluruh penjuru dunia bebas kemana saja, berwisata kemana saja, kenegara manapun yang di inginkan jika mempunyai dana yang diperlukan, Indonesia juga termasuk destinasi wisata yang sering di kunjungi, dari sabang sampai merauke menarik perhatian mata dunia. Orang lokal Indonesia pun bebas kemana saja ke penjuru Indonesia untuk bekerja ataupun berwisata, kita tidak tahu orang-orang itu atau kia sendiri adalah pembawa gen penyakit atau tidak, oleh karena itu Jangan sampai anak-anak kita terkena dampak virus dan penyakit berbahaya ini lah pentingnya vaksin dan imunisasi, kita memberika informasi genetis ketubuh demi membentingi tubuh kita dari penyakit berbahaya. Bahkan di Negara-negara tertentu mewajibkan orang yang datang berkunjung untuk vaksin terlebih dahulu. Dengan menjadi manusia modern yang sehat dan kebal terhadap penyakit tentunya kita bisa bersaing dengan Negara lain, dan tidak tertinggal.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita bersama.


Poncowarno, 09-20-2018





Ad Placement

kelas

civic

ppkn